Istilah profesional berasal dari kata profesi. Dalam kamus “Theadvanced Learner’s Dictionary of Current English, yang ditulis A.S. Hornby, dkk. Dinyatakan bahwa “profession is accuption, esp. one requiring advanced educational and special training”.
Artinya jabatan yang memerlukan suatu pendidikan tinggi dan latihan
secara khusus. Suatu jabatan akan menentukan aktivitas-aktivitas sebagai
pelaksana tugas. Berarti bukan jabatannya yang menjabat predikat
profesional, tetapi keahliannya dalam melaksanakan pekerjaan.
Lempak lempu, Lempak lempuyang...
Dengo sing mlebu dadi awu banjur ilang...
Kadut
weteng, weteng segara...
Gulu bengawan dadi srana...
Wal geduwal, wal
geduwal...
Embuh watu embuh koral...
Embuh pinjal embuh kadhal...
Embuh suwal
embuh bantal...
Embuh karom embuh kalal...
Anggere kolu njur diuntal...
Begitulah kata pinisepuh dalam menggambarkan berbagai macam aktifitas kita yang hidup di jaman digital ini.
Dengo sing mlebu dadi awu, banjur ilang, Kadut weteng, weteng segara.... Disini, segala sesuatu yang masuk kemulut kita seoalah - olah langsung hilang tanpa merasakan kenyang. Dan itu menandakan kurang rasa bersyukur. Segala sesuatu hanya untuk kepentingan pribadi tanpa menghiraukan resiko, dan akibatnya. Semua hanya untuk kepentingan perut kita. Wal geduwal, anggere kolu njur diuntal....
Kita memang diwajibkan mencari nafkah untuk keluarga, demi kelangsungan hidup kelak di kemudian hari. Agar mampu untuk meraih apa yang menjadi impian dan cita - cita.
Sering kita mendengar "ini adalah zaman profesional, zaman Borderless atau tanpa batas di era Globalisasi".
Seseorang yang Profesional tentunya mampu mengendalikan mental spiritualnya, sehingga
mereka akan melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai, prinsip hidup,
ataupun agama yang dianutnya. Karenanya, segala aktivitas profesional harus diawali dengan sebuah
kesadaran niat yang benar, bergesernya niat, akan turut
mempengaruhi kinerja seseorang. Sehingga muncullah "Wal Geduwal " yang jelas - jelas mementingkan perutnya sendiri tanpa didasari dengan norma - norma dan kaidah - kaidah agama.
Tak dapat dipungkiri, kehidupan dunia yang lebih mengedepankan aspek
formalitas daripada moralitas, seperti saat ini, intelektualitas
dijadikan parameter pertama untuk mengukur kemampuan seseorang. Padahal,
kecakapan intelektual bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai
profesionalitas seseorang. Apa gunanya orang cerdas jika tak bermoral
dan tidak memiliki karakter yang baik. Kecerdasannya akan disalahgunakan
hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi dan merugikan orang lain.
Fathanah (Cerdas dan bijaksana), yang bukan hanya sekedar bermakna cerdas tetapi
juga visioner dan inovatif, tanggap menangkap peluang untuk maju serta
menciptakan sesuatu yang tepat guna, efisien dan berdaya saing tinggi.Yang kudu dibarengi dan diimbangi dengan kejujuran (ash-shidqu), amanah (al-amânah) atau dapat dipercaya, serta keterbukaan dan transparansi (tablîgh). yang bermakna menyampaikan sesuatu apa adanya, tanpa ditutup-tutupi.
Kita, adalah manusia yang tidak sempurna, namun kita dapat menuju ke arah yang terbaik, yang dapat berguna bagi kita bersama.
